Dari wacana menjadi nyata. Begitulah kira-kira asal mula
perjalanan ini bisa terlaksana. Perjalanan pendakian terpanjang yang baru kali
ini saya alami. Pendakian yang membutuhkan waktu berhari-hari untuk memulainya
setelah lepas dari kesibukan UTS beberapa hari yang lalu.
Ekspedisi Puncak Berapi, itulah nama pendakian kali ini
dimana tujuannya adalah Gunung Semeru yang terletak di Kota Malang, Jawa Timur.
Gunung Semeru merupakan gunung berapi tertinggi di Pulau
Jawa, dengan puncaknya Mahameru, 3.676 meter dari permukaan laut (mdpl). Kawah
di puncak Gunung Semeru dikenal dengan nama Jonggring Saloko.
Posisi gunung ini terletak di antara wilayah administrasi
Kabupaten Malang dan Lumajang, dengan posisi geografis antara 8°06' LS dan
120°55' BT.
Dengan menjinjing tas carier masing-masing, Tepat pukul
18,30 Tim Ekspedisi bergerak meuju Malang, dengan dilepas langsung oleh Ketua
Umum Kompas (KOMPAS.IX.001). Adapun tim tersebut terdiri dari dua angkatan
yaitu mas Cepot dan mas Cakil dari angkatan VII, serta Geplak, Demo,Homat,
Cimeng dan saya sendiri dari angkatan IX KOMPAS.
Pendakian dimulai pada hari Kamis pukul 14.00 dar basecamp
ranupani, dengan dipimpin oleh kepala Divisi Gunung Hutan (KOMPAS.IX.011).
banyak sekali hal baru yang kami dapatkan disini, dari mulai saudara teman
bahkan rekan pendaki.namun yang paling berkesan adalah saudara jauh kami dari
MAPALA Juanda Bogor dan MAPALA UMY Yogyakarta. Meskipun baru kali pertama kami
bertemu tapi ikatan darah kami terasa begitu kental. Ya memang, “Satu MAPALA,
Sejuta Saudara” itulah kami. saat itu pula saya teringat dengan kata-kata
tersebut yang pernah saya dapat dalam Pendidikan Dasar KOMPAS Angkatan IX.
Selama perjalanan kami selalu melakukan komunikasi dengan
kedua mapala tersebut melalui radio HT, dari siti kita bisa memantau pergerakan
dari anggota masing-masing.
Keindahan Ranukumbolo memang tidak tertandingi, bersih dan
suasananya yang sejuk membuat semua orang ingin merasakan kehangatannya. Namun
masih ada saja orang-orang yang hanya mementingkan egonya masing-masing, mereka
tidak membawa kembali turun sampah yang mereka bawa keatas. Dan memang saya
akui, Saya paling muak dengan orang-orang yang tidak memiliki tanggung jawab
seperti itu. Harus bagaimana lagi kami menasehati, dengan lembut, dengan
teguran halus bahkan gengan nada keras. Tapi tetap saja, penikmat alam hanyalah
penikmat alam.. Haruskah kita membangun gedung dinas kebersihan yang megah di
atas sana??
Mereka tidak sadar bahwa alam juga butuh perhatian, butuh kasih sayang...
sama halnya dengan manusia. Ketika alam sudah berbicara. Siapa yang harus
disalahkan?????
Aku cinta padamu, Mahameru yang dingin dan sepi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar