Jumat, 28 November 2014

Ganendra Danta

Hamparan langit maha sempurna
Bertahta bintang – bintang angkasa
Namun satu bintang yang berpijar
Teruntai turun menyapa ku
(Mahadewi, Padi)


Ganendra Danta adalah angkatan ke-IX di keluarga KOMPAS UNDIP. Angkatan ini terbentuk setelah mengikuti rangkaian kegiatan dari mulai DIKSAR IX KOMPAS yang dilaksanakan di Gunung Ungaran pada tanggal  23-25 Maret 2012 dan selanjutnya melakukan pengabdian pada tanggal 27 Mei 2012 di Dinding Panjat Polines dan dikukuhkan di Puncak Gunung Lawu 3265 mdpl pada tanggal 10 November 2012


Dalam kesusatraan Sansekerta, Ganendra mempunyai arti Pasukan sedangkan Danta adalah Gading Gajah. Dengan harapan :
a. Gading Gajah dengan analogi "kuat" yang berarti solid dan tidak mudah terpecah belah. Gading Gajah dengan analogi " barang yang berharga" yang berarti selalu diburu orang, angkatan kami yang berisi dengan orang-orang yang memiliki pengaruh dan dibutuhkan dikomunitasnya
masing-masing, seperti kata pepatah gajah mati  meninggalkan gadingnya.
b. Ganendra yang berarti pasukan dewa dalam bahasa sansekerta, dengan harapan angkatan IX Kompas selalu menjadi team yang militan yang tangguh.


Angkatan IX Kompas beranggotan 13 orang, yang terdiri dari:


  1. AUZI FAIZ BAHTIAR / BENDOL / KOMPAS.IX.001
  2. NURNIA ARIFIANI / CIMENG / KOMPAS.IX.002
  3. ANDIKA YOGI UTOMO / GEPLAK / KOMPAS.IX.003
  4. RIZQI SAIFUL UMAM / BAGONG / KOMPAS.IX.004
  5. IJRAN MAYURA / COBAL / KOMPAS.IX.005
  6. ARIFIN BUDIMAN / DEMO / KOMPAS.IX.006
  7. RIO SAKTI PAMUNGKAS / PAMO / KOMPAS.IX.007
  8. AGUNG WIBOWO / GENTONG / KOMPAS.IX.008
  9. WISNU SATRIA ADI / KENTUT / KOMPAS.IX.009
  10. ABDILAH NUR ISNAINI / MUGIL /KOMPAS.IX.010
  11. ROZIQIN FADHIL / HOMAD / KOMPAS.IX.011
  12. DELTA PANCA NUGRAHA / SEMPAL /KOMPAS.IX.012
  13. PUTRI PANCARANI / UPIL /KOMPAS.IX.013 

all about Ganendra Danta can be seen HERE

Minggu, 22 Juni 2014

Ekspedisi Mahameru 3676 mdpl

Dari wacana menjadi nyata. Begitulah kira-kira asal mula perjalanan ini bisa terlaksana. Perjalanan pendakian terpanjang yang baru kali ini saya alami. Pendakian yang membutuhkan waktu berhari-hari untuk memulainya setelah lepas dari kesibukan UTS beberapa hari yang lalu.
Ekspedisi Puncak Berapi, itulah nama pendakian kali ini dimana tujuannya adalah Gunung Semeru yang terletak di Kota Malang, Jawa Timur.
Gunung Semeru merupakan gunung berapi tertinggi di Pulau Jawa, dengan puncaknya Mahameru, 3.676 meter dari permukaan laut (mdpl). Kawah di puncak Gunung Semeru dikenal dengan nama Jonggring Saloko.
Posisi gunung ini terletak di antara wilayah administrasi Kabupaten Malang dan Lumajang, dengan posisi geografis antara 8°06' LS dan 120°55' BT.
Dengan menjinjing tas carier masing-masing, Tepat pukul 18,30 Tim Ekspedisi bergerak meuju Malang, dengan dilepas langsung oleh Ketua Umum Kompas (KOMPAS.IX.001). Adapun tim tersebut terdiri dari dua angkatan yaitu mas Cepot dan mas Cakil dari angkatan VII, serta Geplak, Demo,Homat, Cimeng dan saya sendiri dari angkatan IX KOMPAS.
Pendakian dimulai pada hari Kamis pukul 14.00 dar basecamp ranupani, dengan dipimpin oleh kepala Divisi Gunung Hutan (KOMPAS.IX.011). banyak sekali hal baru yang kami dapatkan disini, dari mulai saudara teman bahkan rekan pendaki.namun yang paling berkesan adalah saudara jauh kami dari MAPALA Juanda Bogor dan MAPALA UMY Yogyakarta. Meskipun baru kali pertama kami bertemu tapi ikatan darah kami terasa begitu kental. Ya memang, “Satu MAPALA, Sejuta Saudara” itulah kami. saat itu pula saya teringat dengan kata-kata tersebut yang pernah saya dapat dalam Pendidikan Dasar KOMPAS Angkatan IX.
Selama perjalanan kami selalu melakukan komunikasi dengan kedua mapala tersebut melalui radio HT, dari siti kita bisa memantau pergerakan dari anggota masing-masing.

Keindahan Ranukumbolo memang tidak tertandingi, bersih dan suasananya yang sejuk membuat semua orang ingin merasakan kehangatannya. Namun masih ada saja orang-orang yang hanya mementingkan egonya masing-masing, mereka tidak membawa kembali turun sampah yang mereka bawa keatas. Dan memang saya akui, Saya paling muak dengan orang-orang yang tidak memiliki tanggung jawab seperti itu. Harus bagaimana lagi kami menasehati, dengan lembut, dengan teguran halus bahkan gengan nada keras. Tapi tetap saja, penikmat alam hanyalah penikmat alam.. Haruskah kita membangun gedung dinas kebersihan yang megah di atas sana??
Mereka tidak sadar bahwa alam  juga butuh perhatian, butuh kasih sayang... sama halnya dengan manusia. Ketika alam sudah berbicara. Siapa yang harus disalahkan?????



Aku cinta padamu, Mahameru yang dingin dan sepi.